Thursday, January 2, 2014

[Review] Project Hashima (2013)


Director : Piyapan Choopetch
Casts : Pirat Nitipaisalkul, Sucharat Manaying, Alexander Rendell, Mek Mekwattana
Duration : 118 min

FYI :
Industri film Thailand sempat terkenal dengan film horornya sebagai salah satu horror Asia yang paling menakutkan, dan otomatis paling dicari oleh penggemar horor. Namun sayangnya, kejayaan horor Thailand hanyut terbawa tren film komedi romantis yang sedang hangat-hangatnya di Thailand. Beberapa film horor Thailand terakhir yang sempat tayang di bioskop tanah air tidak ada yang istimewa, hampir semua film ini saling mengikuti satu sama lain dan terkesan mirip tanpa ada ide segar. Hal tersebut juga terjadi kepada Banjong Pisanthanakun, sutradara Shutter, Alone, 4Bia dan Phobia 2. Film terbarunya yang menjadi film terlaris sepanjang masa di Thailand, Pee Mak menggunakan formula yang sama dengan film pendek Banjong sebelumnya, yaitu In the End di Phobia 2. Kali ini film Thailand kembali hadir di tanah air dengan salah satu film horor terbaru di Thailand, yaitu  Project Hashima.


Synopsis :
Lima lulusan sekolah film berusaha untuk mendapatkan pekerjaan dengan membuat film horor pendek dengan mencoba memasukkan film tersebut ke rumah produksi. Namun, semua rumah produksi tersebut tidak pernah memberi panggilan kembali. Mereka berganti strategi dengan cara mengunggah video tersebut ke YouTube dan sukses. Mereka mendapat tawaran dari Ghostland untuk meliput Pulau Hashima yang dikenal sebagai salah satu tempat terseram di dunia. Mereka menginap di sebuah kota sebelum pergi ke Pulau Hashima dan mereka bertemu dengan sesosok wanita yang berkaitan dengan pulau tersebut. Mereka pun berangkat dan menemui banyak keanehan yang "berhasil" ditangkap kamera. Merekapun kembali ke Thailand, tetapi mereka kembali tidak hanya berlima.

IMO :
Film ini memiliki alur yang cukup lambat. Dengan durasi yang hampir dua jam, film ini ingin menceritakan film tersebut dengan detil, bahkan terlalu detil di hal-hal yang tidak penting. Salah satu contohnya adalah percakapan mereka di mobil dan salah satu dari mereka menyeletuk kurang lebih seperti ini "kita ke Hashima gak perlu asuransi nih ?" dan shot langsung beralih ke papan reklame salah satu perusahaan asuransi di Thailand. Terlihat sebuah product placement yang disengaja di sini, akan lebih baik jika mereka melewati jalanan dan mereka melintasi papan reklame tersebut tanpa dialog seperti yang disebutkan di atas.

Contoh lainnya adalah promosi salah satu tempat pariwisata di Jepang yang entah disengaja atau tidak. Sesampainya mereka sampai di Jepang, pemandu wisata membawa mereka ke Huis Ten Bosch dengan alasan untuk makan. Namun, sesampainya mereka di sana, mereka malah jalan-jalan dan foto-foto. Bagian ini kira-kira memakan waktu hingga lima menit dan terasa sangat tidak relevan ke jalan cerita filmnya.

Pengambilan gambar ketika di Hashima cukup menarik karena menampilkan point of view dari seorang pengintai, mungkin di kasus ini point of view sang hantu. Kita melihat lima sekawan itu dari atas dan belakang jendela. Sesekali sang hantu diperlihatkan melintas di depan mata kita. Sebetulnya saya juga mengharapkan adanya campuran antara film yang terlihat film dan found footage. Jujur saja melihat trailernya, saya mengira akan didominasi oleh found footage.

Sosok hantu di film ini juga jarang diperlihatkan secara terang-terangan, terutama hantu yang berada di Hashima. Hantu tersebut biasanya ditamplikan dalam keadaan blur ataupun gelap, sehingga kita hanya bisa melihat siluet atau sosok dari hantu tersebut. Hal tersebut efektif dalam memberikan ketegangan karena jika kita terbiasa melihat si hantu muka rusak tersebut terlalu sering, kita akan terbiasa dan tidak akan begitu takut jika hantu tersebut muncul.

Setting di Hashima benar-benar terlihat seperti reruntuhan, lengkap dengan abu yang tebal menempel di seluruh ruangan. Setting yang baik ini juga didukung oleh efek visual yang cukup memuaskan. Efeknya mungkin masih belum semulus dan serapih Hollywood, tetapi efeknya cukup terlihat nyata.

Sayangnya, film ini tidak mengeksplorasi mendalam tentang Hashima, sejarahnya ataupun budayanya. Jalan cerita film ini terasa berdiri sendiri dan tidak ada sangkut paut dengan Hashima, kecuali settingnya, sehingga Hashima hanya terasa seperti brand untuk mendapatkan nilai jual yang lebih. Film ini bisa saja mengangkat kisah horornya dari mitos atau kepercayaan lokal Thailand, atau bahkan membuat mitos sendiri dari nol.

Film ini juga bermasalah dengan logika dan konsistensi dari peraturan di dunia film ini. Film ini menceritakan bahwa seseorang akan dapat melihat hantu jika matanya kemasukan abu orang yang sudah meninggal. Kelima orang ini kemasukan debu, tetapi tidak satupun yang melihat hantu yang mengejarnya ataupun hantu lokal yang berkeliaran. Mereka hanya melihat hantu di saat mereka akan dibunuh hantu tersebut. Parahnya kita jarang melihat sosok (sosok, bukan keseluruhan badan) hantu, baik di Hashima maupun di Thailand. Hantu di Hashima pun masih bisa dihitung dengan jari, sedangkan hanya satu hantu yang ikut bermigrasi ke Thailand.

Alasan hantu menghantui mereka berlimapun tidak terlalu jelas motivasinya. Sampai akhirnya sebuah twist muncul yang menyelamatkan beberapa hal yang tadinya terasa sangat random. Twist tersebut disusun cukup rapi, tetapi sayangnya twist tersebut tidak tanpa cela. Twist tersebut membuat permasalahan baru karena cukup bertentangan dengan alasan sang hantu menghantui mereka.

Last Word :
Film ini tidak terasa spesial karena film ini terasa seperti kepingan puzzle dari beberapa film yang disatukan menjadi sebuah gambar baru yang tetap memiliki cela. Film ini bukan film terjelek ataupun film yang sangat tidak masuk akal. It's not that bad, but it is also not good.

#Tweeview :
-

Score : 50 of 100

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...